28 Des 2011

BERMAIN SAMBIL BELAJAR


Buat anak balita, bermain adalah pekerjaannya, makanya sering dikatakan dunia anak adalah dunia bermain. Namun, sambil bermain, sebenarnya anak belajar, yaitu mengembangkan seluruh aspek dalam dirinya.

DEFINISI

Bermain ialah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi kesenangan, tanpa ada tujuan atau sasaran yang hendak dicapai.Jadi, apa pun kegiatannya, bila dilakukan dengan senang bisa dikatakan bermain. Pun bila sebenarnya bekerja, misal, membantu ibu memotong sayur di dapur, tapi karena dilakukan dengan senang dan atas inisiatif si anak, maka pekerjaan itu baginya dinamakan bermain. Begitu pula bila inisiatif bermain atas ajakan orangtua, tetap dikatakan bermain, asalkan anak senang melakukannya. Sebaliknya, jika anak melakukan perbuatan yang kita anggap bermain, tapi dengan terpaksa atau karena dipaksa, maka tak bisa dikatakan bermain.

Bermain adalah dunia anak yang paling menyenangkan
Itu sebabnya, bermain dikatakan sebagai kegiatan inklusif dan inheren, yaitu muncul atas motivasi dari dalam diri dan tak perlu diajarkan lagi. Soalnya, sejak bayi memang ada kebutuhan bermain. Namun begitu,suatu kegiatan baru dikatakan bermain bila dilakukan setelah usia 3 bulan.Sebelum usia 3 bulan, kegiatannya lebih banyak menggambarkan refleksnya.Setelah usia 3 bulan, kegiatan nya didasarkan dorongan untuk mencapai kesenangan.
Definisi bermain berlaku sampai tua. Hanya, orang dewasa menyebutnya bukan bermain, melainkan berekreasi. Sementara bermain untuk anak usia sekolah bukan atas dorongan semata, tapi juga disertai rasa ingin menang. Jadi, belum pantas bila anak balita dipacu untuk   menang semisal mengikuti lomba-lomba yang menekankan kesempurnaan hasil. Hal ini sama saja dengan merampas hak anak.

MANFAAT BERMAIN
Manfaat bermain amat banyak dan selalu menyangkut tiga ranah yaitu:
1.Fisik-Motorik
Anak akan terlatih motorik kasar-halusnya. Dengan bergerak, ia akan memiliki otot-otot tubuh yang terbentuk secara baik dan lebih sehat.
2.Sosial-Emosional
Anak merasa senang karena ada teman bermainnya. Di tahun-tahun pertama kehidupan, orangtua merupakan teman bermain yang utama  bagi anak. Ini membuatnya merasa disayang dan ada kelekatan  dengan orang tua, selain belajar komunikasi dua arah.
3.Kognisi  (Berhubungan dengan berpikir/kecerdasan)
Anak belajar mengenal atau punya pengalaman mengenai objek-  objek tertentu seperti: benda dengan permukaan kasar-halus, rasa asam, manis, dan asin. Ia pun belajar perbendaharaan kata,bahasa, dan berkomunikasi timbal balik. Makin usia bertambah, ia pun tertarik memperhatikan sesuatu, memusatkan perhatian dan  mengamati, misal, kala diperlihatkan buku-buku bergambar.
Pada anak-anak yang mengalami gangguan seperti autisme atau  hiperaktif, lewat media bermain juga dilatih berkonsentrasi,  mengenal warna atau bentuk, dan sebagainya. Anak autis juga dilatih untuk bisa melakukan kontak dengan orang lain; sedangkan anak  hiperaktif atau gangguan atensi dilatih untuk memperhatikan dengan  lebih sabar dan mau mencoba menyelesaikan tugasnya.

HARUS SEIMBANG
 Kita hendaknya tak cuma mengembangkan aspek tertentu. Kalau tidak,  misal, hanya aspek kognisinya yang distimulasi sejak dini agar  cerdas, bisa-bisa anak jenuh. Berdasarkan studi banding di Amerika  Serikat, dilakukan penelitian longitudinal terhadap anak-anak TK antara kelompok yang diberikan program 3 M (membaca, menulis,  menghitung) dengan yang tidak, ternyata 10 tahun kemudian kemampuan  akademis mereka sama. Bahkan, anak yang dirangsang terlalu dini, akhirnya mengalami gangguan-gangguan emosi,tak mau sekolah,  berperilaku menyimpang, atau memberontak.
Seimbangkan juga kegiatan fisik dengan kegiatan di tempat seperti  main lego, meronce, atau menggambar. Meski si anak tipe aktif yang  tak suka permainan diam di tempat atau sebaliknya, kita tetap harus  menyeimbangkannya. Jadi, anak harus punya kesempatan bermain yang  melibatkan fisiknya, selain bermain yang perlu ketekunan. Dengan  begitu, wawasannya jadi luas. Bila ia hanya bermain secara fisik  terus, anak kurang mendapat kesempatan memperoleh berbagai  pengetahuan dan kurang terlatih ketekunan serta konsentrasinya.
  Sebaliknya, jika hanya bermain di tempat, tapi kurang kegiatan  fisik, ia jadi kurang terampil pada kegiatan luar yang akan  berdampak pada sosialisasi dengan teman-temannya kelak, juga  mempengaruhi kepercayaan dirinya. Jadi, bila ia keasyikan bermain di  tempat, dorong ia bermain di luar rumah (outdoor). Ajak ia bermain  ayunan, meniti di atas balok, bermain bola, atau melompat. Selain  melatih ketrampilan fisiknya, bermain di luar memberinya kesempatan  bertemu teman sebayanya. Ia pun bisa bebas mengekspresikan emosinya: bebas berteriak, jingkrak-jingkrak. Dengan demikian, selain fisik  motoriknya berkembang, juga emosi-sosialnya.

TAK PERLU MAHAL
Bermain sambil belajar bisa dilakukan melalui aktivitas:
1.Kegiatan fisik.
Maksudnya merangkak,berjalan,berayun,atauciluk-ba.Dalam merang- kak, misal, selain melatih motorik kasarnya, juga mengaktifkan otak kanan dan kirinya. Jadi, saat anak merangkak, kita bisa menemaninya (ikut merangkak) semisal "berlomba" sampai tujuan tertentu. Ketika ia mulai belajar berjalan dengan cara merambat, tirukan dan ajaklah ia "berlomba". Hingga, ia terdorong melatih motorik kasarnya, selain juga mendekatkan hubungan dengan ayah-ibu.
2.Memanfaatkan benda-benda yang ada.
Anak bisa bereksplorasi dengan barang-barang rumah tangga, semacam centong kayu dengan panci sebagai alat musik, belajar  memutar atau memasukkan wadah dengan tutupnya, atau bermain  dengan cermin, dan lainnya.
3. Menggunakan alat permainan edukatif.
Alat permainan edukatif adalah alat yang sengaja dirancang  untuk tujuan tertentu. Syaratnya:
a.Dapat digunakan dalam berbagai cara atau dapat dibuat dalam macam-macam bentuk, dengan macam-macam manfaat dan tujuan.  Misal, mainan balok-balok atau meronce, yang bisa disusun sesuai kehendak, apakah diurutkan dari yang besar ke kecil ataukah berdasarkan warna/bentuk tertentu. Selain melatih motorik halus, juga pengenalan warna, bentuk, dan ukuran.  Lilin mainan atau playdough juga termasuk mainan edukatif karena bisa mendorong imajinasi anak dan melatih jari-jemarinya, meski sebelumnya kita harus memberi contoh  bagaimana menggunakannya. Kalau tidak, anak tak tahu mau diapakan karena permainan ini tak terstruktur.
b.Ditujukan untuk anak usia di atas 1,5 tahun dan berfungsi mengembangkan berbagai aspek perkembangan, baik fisik,emosi, sosial, atensi, serta kognisi, entah berupa daya nalar, bahasa, konsep dasar, warna, bentuk, dan lainnya. Anak usia 10 bulan juga sudah bisa dikenalkan dengan puzzle tunggal, dikenalkan pada warna dan binatang.
c.Aman bagi anak, baik dari cat, warna, serta bahan dasarnya yang rapi atau tak tajam. Jadi, perhatikan kalau-kalau catnya  mudah terkelupas atau permukaannya runcing.
d.Membuat anak terlibat secara aktif atau melakukan sesuatu.    Beda dengan mendengar kan cerita atau menonton TV yang hanya   pasif mendengarkan dan melihat di mana anak tak aktif melakukan sesuatu dengan intensif.
e.Sifatnya konstruktif. Jadi, ada sesuatu yang dihasilkan dari  apa yang ia buat, entah bermain lego, balok, atau menggambar,       
Jika alat permainan edukatif tak bisa terbeli karena keterbatasan  ekonomi, kita bisa berkreasi dengan membuatnya dari bahan-bahan yang  ada di sekitar rumah. Misal, bagi yang tinggal di dekat pantai bisa  menggunakan kumpulan kerang-kerang aneka bentuk dan ukuran yang  telah dicuci bersih. Anak bisa diminta menyusun dari ukuran yang besar ke kecil atau dibuat bentuk tertentu, dironce.
Jadi, asalkan orangtua kreatif, sebenarnya mainan tak perlu mahal,  tapi bisa dibuat sendiri. Misal, untuk melatih indera pendengaran,  isilah botol bekas dari bahan kaleng dengan sesuatu agar berbunyi  kala dikocok; untuk mengenalkan warna, bisa diambil berbagai jenis  bunga atau buah. Kulit jeruk atau kotak korek api bisa dibuat mobil-mobilan. Pun bila ingin punya puzzle, kita bisa membuatnya dari  potongan gambar di majalah yang ditempelkan ke kertas karton lantas  dipotong-potong membentuk puzzle. Tentu tinggal menyesuaikan dengan  usia anak; untuk usia lebih dini, dibuat puzzle tunggal, misal,  gambar gajah utuh atau bunga mawar utuh; untuk tahapan selanjutnya,  puzzle bisa lebih rumit lagi.

Sumber : http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/179/

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

BUKU TAMU

Sahabat IPI Sumedang

Copyright © 2012. IPI Sumedang - All Rights Reserved B-Seo Versi 3 by Bamz